10 Penggawa Hip Hop Indonesia Terkini

Generasi baru hip hop lokal siap menggebrak industri musik Indonesia

Oleh
10 Penggawa Hip Hop Indonesia Terkini.

Secara tidak sengaja dua nama rapper muda Indonesia mencuat belakangan ini di internet: Young Lex dan Rich Chigga. Samuel Alexander Pieter, nama asli Young Lex, dikenal publik melalui video kolaborasinya bersama para YouTuber di lagu "Ganteng Ganteng Swag". Videonya kini telah disaksikan lebih dari sepuluh juta kali. Sensasi YouTube ini kemudian direkrut masuk major label Trinity Optima Production, dan sepertinya ia masih belum akan berhenti menjadi pembicaraan di masa depan.

Rich Chigga alias Brian Immanuel meraup kepopuleran internasional. Bermula sebagai komedian Vine, anak muda yang sekolah rumahan ini meraih kesuksesan tak terduga ketika single-nya, "Dat $tick", dibicarakan ramai di internet. Salah seorang anggota legenda hip hop Wu-Tang Clan, Ghostface Killah, memujinya dan bahkan ingin menggarap versi remix­-nya.

Keduanya merupakan produk yang berbeda; Young Lex datang dari komunitas, Rich Chigga memulai segalanya sendiri. Tapi internet yang melesatkan nama mereka. Publik umum menaruh perhatian kembali ke hip hop lokal. Setelah terakhir kali Saykoji menjadi pembicaraan di ranah mainstream, kini nama-nama baru mulai menunjukkan diri. Di luar keduanya, geliat hip hop sejatinya memang sedang menguat. Di Yogyakarta, Begundal Clan dan D.P.M.B menjadi andalan baru. Begitu pun di kota-kota lain. Sayang bila Rolling Stone Indonesia melewatkan kesempatan untuk merayakan kebangkitan hip hop Indonesia, sekaligus memberikan alternatif di luar dua nama yang kadung populer.

Sepuluh nama yang dipilih hanya sebagian kecil dari pergerakan hip hop di Indonesia. Di luar nama-nama di daftar, masih banyak lagi artis hip hop lokal yang bisa dibahas. Untuk sekarang, mari berkenalan dengan sepuluh nama baru yang bisa jadi tak berapa lama lagi bakal menjadi nama-nama penting di orbit hip hop nasional.

Young Lex (Jakarta)

Young Lex.

Terdengar Seperti: Kumpulan rima sederhana dengan lirik cenderung keras dan lugas, selalu disambut manis oleh kaum belia dunia maya.

Untuk Pendengar: Drake, Lil Wayne.

Mengapa Harus Dipantau:

Karya hip hop perdana Samuel Alexander Pieter atau Young Lex berangkat dari satu tujuan yang mungkin juga digunakan oleh para penggemarnya sekarang, yakni sebagai alat bantu kehidupan sosial. "Pertama kali nge-rap itu saat bikin lagu untuk nembak cewek," kenangnya. Sebelum itu Lex mengaku belum pernah melakukan rap, ia mempelajarinya bersamaan saat menciptakan lagu cinta yang diberi judul "I Got Love" pada 2010 silam. "Habis lagu itu jadi, gue wall to wall ke orang-orang di Facebook. Lalu ada salah satu murid SMA yang suka lagunya, dan disebarkan ke sekolahnya. Setelah itu sekolahnya bikin acara internal dan gue diundang. Itu menjadi momen pertama gue manggung dan langsung sebagai guest star. Diperlakukan sebagai guest star, dijemput, disediakan ruang makan," ungkap rapper yang kini berusia 24 tahun tersebut.

Empat tahun dan puluhan video YouTube kemudian, Young Lex akhirnya menyandang dua status di belakang namanya, rapper dan YouTuber. Status yang pertama tentu saja berkat aktivitas dan produktivitas dirinya dalam menciptakan musik hip hop yang tergabung dalam album YOGS (2015). Untuk statusnya yang kedua, Lex adalah salah satu YouTuber Indonesia yang paling berhasil menyedot jumlah penonton hingga angka jutaan. Pencapaian Lex di dunia maya membuat ia berhasil ditempatkan di panggung yang sama dengan salah satu musisi idola masa kecilnya, Iwan Fals.

Dia Bilang:

"Gue bikin lagu dari suara orang yang paling banyak," kata Lex. "Bagaimana caranya lagu yang gue bikin bisa relate sama penggemar dan mereka bisa update status [media sosial] dengan lagu itu," tambahnya. Lex cukup serius dalam memikirkan peluru-peluru di dalam lagunya. Saat melakukan proses kreatif ia akan mencari kumpulan kata-kata yang sekiranya akan terbaca keren jika terpampang di lini masa media sosial banyak orang.

Tentang musik hip hop Indonesia, Lex merasa bahwa kancah tersebut tengah bertumbuh besar dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Walau begitu Lex tetap menyiapkan visi dan misi demi mengubah hip hop ke arah yang lebih baik, setidaknya menurut opini dia pribadi. Ini didasari oleh pemikiran Lex belakangan bahwa selama sekitar satu dekade lalu hip hop Indonesia hanya menjadi bahan lucu-lucuan. "Gue nggak mau hip hop menjadi seperti itu lagi. Rapper ya setara dengan penyanyi, bukan sidekick. Gue benci banget ketika rapper diundang ke sebuah acara selalu diminta freestyle. Gue benci banget karena [itu] sama saja seperti orang Tiongkok harus bisa kung-fu. Nggak semua rapper itu bisa freestyle, karena ada rapper yang jago menulis lirik, ada rapper yang jago freestyle. Semua punya keahlian masing-masing."

Coba Simak:

Berkolaborasi dengan Razi dan Dooms Dee, "Goyang Bos" dari Young Lex memuat tingkat percaya diri tinggi kaum Adam dalam menaklukkan para wanita dan dunia. (Pramedya Nataprawira)

SONJAH (Surabaya)

SONJAH

Terdengar Seperti: Sebuah kolaborasi apik antara musisi jazz, elektronik, dan hip hop

Untuk Pendengar: A Tribe Called Quest, J. Dilla, Mos Def

Mengapa Harus Dipantau:

Sebelum muncul dengan identitas Sonjah, pemilik nama lengkap Rendy Liverinsiano ini pernah merilis album berjudul Abstrak bersama kolektif hip hop miliknya, Kingstone, di bawah label rekaman Sony BMG Music Entertainment Indonesia. Ketika muncul dengan nama Sonjah, ia menawarkan musik yang lebih segar: perpaduan hip hop dengan jazz hingga chill. Nama-nama seperti Soul ID, Yacko, dan Pandji Pragiwaksono pernah mengajak pria asal Surabaya ini untuk berkolaborasi membuat musik.

Dalam mencari sumber inspirasi dan idola, Sonjah mengaku tidak hanya terjebak di dunia hip hop. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh Nina Simone, French Kiwi Juice, Radiohead, hingga Mus Mujiono. "Cara mereka dalam mengaransemen atau memberikan komposisi dalam musik menurut saya sangat sempurna dan brilian. Lagu-lagu mereka tidak pernah lepas dari telinga saya setiap hari," jelas Sonjah.

Dia Bilang:

"Perbedaan yang terjadi di hip hop Indonesia adalah soal penulisan lirik si musisi itu sendiri. Menurut saya para musisi hip hop di Indonesia saat ini banyak yang hanya bercerita soal haters. Again and again. Jika terlepas dari haters, mereka hanya bercerita soal gue punya ini dan itu, atau "Gue dikelilingi cewek, bla bla bla.' Come on, man!" ungkap Sonjah gelisah tentang hip hop Indonesia. Ia melanjutkan, "Kasihan banget hidup kalian kalau hanya berada di seputar dua hal itu saja. Kalian harusnya bisa menulis lebih baik dari itu. Berceritalah tentang soal sosial, semangat, pantang menyerah, true love, menyebarkan cinta, dan yang paling terpenting berceritalah soal kejujuran."

Ia akhirnya meluapkan semua perasaan melalui single miliknya yang berjudul "Real", tentang pentingnya menjadi diri sendiri dan jujur. "Seperti yang saya bilang sebelumnya, menulislah dengan kejujuran, katakanlah yang sebenarnya," kata Sonjah. "Kalau kalian bukan gangster, don"t talk and act like a gangster. Kalau kalian bukan killer, please stop acting like a real killer. Kalau kalian bukan seorang real swagger, don"t talk and act like a swagger! Kalian hanya rapper, bukan Frank Sinatra atau Jimi Hendrix!"

Coba Simak:

"Real" dibuka dengan manis oleh sample "Dolphin Dance" milik Ahmad Jamal dan dilanjutkan ocehan Sonjah yang "menampar" rapper atau hip hop klise. (Decky Arrizal)

Rain City Rap Crew (RCRC) (Bogor)

Rain City Rap Crew.

Terdengar Seperti: Trio fanatik rap autentik yang membawa tanduk tajam penuh ambisi, siap menikam para pecundang yang merobohkan konsep hip hop demi kemasyhuran semata.

Untuk Pendengar: Big Punisher, Bad Meets Evil, Das EFX.

Mengapa Harus Dipantau:

RCRC beranggotakan tiga penggemar sejati musik hip hop yang dipertemukan di Bogor. Cerita berawal dari Abel "Kryptik" Wansink, pria asal Groningen, Belanda, yang mulai menetap di Indonesia pada 2011. Kryptik sudah cukup lama berkecimpung di dunia hip hop bawah tanah sedari tinggal di Belanda. Ia pernah membentuk grup rap di medio '90-an, juga label rekaman berdikari untuk musik hip hop, R&B, dan soul bernama Draggon Tracks. Di kota hujan, Kryptik bertemu dengan Dzikri "Dizzy" dan Akbar "Magma" Nurahim, dua sahabat yang menyelami kancah musik hip hop lokal sejak belia. Pada 2014, "The Champions" menjadi karya perdana RCRC yang berhasil diciptakan secara mandiri lewat peranti rekam rumahan di indekos Kryptik.

Meski belum mengantongi album penuh, ketiga personel memikul hasrat kuat menjalani grup rap ini, justru setelah menilai kancah musik hip hop Bogor tengah lesu. "Kalau [komunitas] sedang berkumpul, banyak yang datang. Tapi cuma sedikit yang menciptakan karya dan produktif," kenang Dizzy. RCRC memilih sedikit mundur untuk merancang sendiri fondasi karier mereka. Hasilnya adalah enam belas lagu dalam album Die Hard yang mereka pendam, siap meledak di waktu yang tepat.

Mereka bilang:

"Karya RCRC bercerita tentang apa saja. Yang pasti tentang sudut pandang dari pemikiran kami masing-masing. Rap berarti rhythm and poetry, jadi bagaimana pemikiran bisa kami salurkan lewat metafora dan rima yang kami gunakan," ungkap Dizzy. Yang membuat RCRC sahih sebagai wujud pengagum musik hip hop tulen adalah misi yang dicantumkan di balik setiap karyanya. "Kami ingin menunjukkan bagaimana hip hop seharusnya," kata Kryptik. "Bagaimana eksperimen-eksperimen dapat dilakukan di dalam sebuah lagu. Saya yakin semua harus berawal dari menjadi penggemar. Sedangkan di Indonesia hip hop mainstream terdengar tidak serius. Alih-alih menciptakan karya dengan ciri khas sendiri, mereka justru hanya bisa meniru," tambahnya.

Bagi Kryptik, Dizzy, dan Magma, hidup ditemani musik hip hop dan khususnya RCRC adalah sebuah mimpi yang tengah dibangun. "Skill nge-rap gue bisa dibilang berkah atau karunia dari Tuhan. Dari yang dulu jelek banget lalu gue latih dengan keras untuk bisa sampai sekarang, itu nggak mau gue sia-siakan," ucap Magma. "Ini impian kami, hip-hop adalah jiwa gue. Gue tidak pernah terpikir jika hip hop tidak ada di hidup gue," lanjut dia. Dengan tingkat keseriusan dan gairah yang begitu panas, RCRC tak sungkan untuk memperkenalkan kota kelahirannya ke tingkat masyarakat yang lebih luas. Jika orang berburu mana kru rap Bogor yang patut ditinjau, RCRC siap berdiri di garda terdepan.

Coba Simak:

"RCRC" adalah tembang terjitu dalam membangkitkan energi para penonton di sebuah perjamuan rap tengah malam, diselenggarakan di rubanah tersembunyi jauh dari pusat kota. (Pramedya Nataprawira)

Niska (Jakarta)

Niska

Terdengar Seperti: Bocah ibu kota yang siap berpesta dan "berasap" setiap saat.

Untuk Pendengar: Snoop Dogg, ScHoolboy Q

Mengapa Harus Dipantau:

Sejak meluncurkan single "Audiobong" pada 2011 silam melalui akun YouTube miliknya, Niska terlihat memiliki potensi untuk meluapkan segala hal tentang pesta, Jakarta, dan "mengebulkan asap" menjadi menarik. Hingga akhirnya pada akhir 2015 lalu ia merilis lagu "4 Sample 20 Drumbreaks" yang membuat kita semakin penasaran untuk menunggu karya-karya lain darinya. Ia saat ini juga tercatat sebagai salah satu personel unit dub reggae asal Jakarta, Yella Sky Soundsystem.

Dia Bilang:

"[Kancah hip hop di Indonesia sekarang] alig! (gila) [tertawa]. Dulu susah banget, nggak ada yang percaya sama hip hop. Mainstream dihajar Melayu, sidestream-nya juga punya media darling sendiri. Hip hop dianggap musik klub, padahal lebih enak main di tempat selain klub. Acara hip hop pun jarang banget, apalagi di televisi," ungkap Niska. Karena media untuk berpromosi menyempit, ia bersama rekan-rekannya di Zero One menjadi salah satu kolektif yang rajin menggunakan YouTube sebagai kekuatan baru dalam menunjukkan eksistensi.

"[Kancah hip hop di Jakarta saat ini] asyik, masing-masing lapisan sosialnya punya pendekatan masing-masing ke hip hop. Hip hop lho, bukan rap!" tutur pria berusia 28 tahun ini.

Coba Simak:

Single "4 Sample 20 Drumbreaks" memiliki irama catchy nan melekat dan dilengkapi dengan lirik yang menggambarkan Jakarta era saat ini dengan jenaka. Tidak lupa pengalaman ketika "persediaan" sedang habis pun ada di dalamnya. (Decky Arrizal)

Legit! (Semarang)

Legit!

Terdengar Seperti: Perayaan hip hop Amerika '90-an awal dengan logat lokal.

Untuk Pendengar: Immortal Technique, Bone Thugs-N-Harmony

Mengapa Harus Dipantau:

Empat rapper yang masing-masing aktif berkarier solo memutuskan bergabung di bawah satu nama Legit!. Single "Aint No Surrender" menjadi perkenalan keempatnya: GreedyS, MERE, Rendy-O, dan Triantara. Bergabung di dalam komunitas 024 Streets, awalnya proyek ini merupakan kolaborasi, tapi kecocokan yang dirasa membuat mereka memutuskan untuk membentuk grup, dengan tambahan kehadiran Dirtywake sebagai DJ.

Kesadaran sosial yang cukup tinggi dipancarkan dalam video musik "Ain't No Surrender", yang direkam di reruntuhan Pasar Johar. "Kami memilih tempat tersebut karena dalam hati kami yang terdalam sangat menyayangkan mengapa pasar itu harus terbakar, dan dalam lingkungan reruntuhan tersebut masih terdapat beberapa keluarga yang bertahan di situ dengan tujuan melestarikan tempat tersebut agar tetap berguna," ujar perwakilan Legit!.

Mereka Bilang:

"Untuk scene independen Semarang saat ini dapat dibilang sedang mengalami kemajuan dalam konteks produksi. Untuk scene hip hop kami rasa kami baik-baik saja, if you know what I mean [tertawa]," jawab Legit! via surat elektronik.

Coba Simak:

Menggunakan sample dari The Derek Lawrence Statement "I Am Preacher", lagu "Ain't No Surrender" terasa menantang dan cocok mewadahi empat gaya berbeda dari masing-masing rapper yang tergabung di dalamnya. (Godham Perdana/Ivan Makhsara)

Laze (Jakarta)

Laze.

Terdengar Seperti: Anak paling pintar di dalam kelas, tapi juga paling bengal di luar kelas. Pemilihan katanya terbaik di kelasnya.

Untuk Pendengar: Kanye West, Kendrick Lamar, Soulja Boy

Mengapa Harus Dipantau:

Dihormati kolega dan pelan-pelan mengumpulkan penggemar setia, Laze bisa jadi nama besar di dunia hip hop Indonesia di tahun-tahun mendatang. Berbeda dengan para rapper sebelumnya, pria bernama asli Havie Prakasya ini mengandalkan wordplay sebagai senjata utamanya. "Gue bisa bilang untuk soal wordplay gue mungkin inovatornya di Indonesia. Banyak rapper di Indonesia yang metaforanya puitis dan nggak kena. Kalau gue bikin yang relate," ujarnya mantap.

Teknik permainan kata yang diusungnya memang sering membuat terkejut, seperti dalam lagu "Budak" ia menuturkan nasib nahas tinggal di ibu kota: "Ia bersama seorang mata keranjang/Demi harta ia mau naik ke ranjang." Sedang mengerjakan album pertama berbahasa Indonesia,Waktu Bicara, ia bisa saja langsung melesat melalui album yang dikonsepnya sebagai perjalanan kebangkitan seorang pendatang di Jakarta.

"Album Waktu Bicara seperti cerita, lagu satu hingga terakhir bercerita tentang orang yang datang ke kota besar, spesifiknya Jakarta. Dari mulai yang umum sampai ke yang pribadi banget diceritakan. Mungkin di album hip hop Indonesia nggak ada yang sejujur itu," jelasnya.

Dia Bilang:

"Gue ingin membuat empire, seperti Jay-Z bikin Roc Nation. Kalau mau mimpi ya mimpi besar sekalian. I want to be the boss of hip hop," tegasnya. "[Tentang] Hip hop di Indonesia, ombaknya lagi datang. Kelas menengah atas lagi membicarakan Rich Chigga dengan karakternya dan role model kelas menengah ke bawah ada Young Lex. Gue tinggal ambil papan seluncur untuk ride the wave," tambahnya.

Coba Simak:

"Budak", lagu panas tentang kehidupan kelas menengah di Jakarta, diiringi sampling yang riuh dan mencekam. (Ivan Makhsara)

JERE (Medan)

JERE.

Terdengar Seperti: Semburan kegeraman tanpa omong kosong yang menghantam terus hingga babak belur.

Untuk Pendengar: Wu Tang Clan, Busta Rhymes

Mengapa Harus Dipantau:

Jeremia Norman Saragih adalah rapper muda terbaik saat ini di Sumatra Utara. Sedang mempersiapkan album kedua, namanya pantas dikenal secara nasional. Tubuhnya besar, rap-nya sangar. Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dihajarnya dengan lancar. Topik sosial dan politik dibahasnya tanpa harus mengundang geli, tak seperti kebanyakan musisi. Di lagu pengantar untuk album yang akan datang, "TV", Jere mengkritik televisi yang makin membodohi penontonnya.

Di lagu lainnya, "Multi Tafsir Skena", Jere berduet dengan mentornya, Ucok Munthe, senior di dunia hip hop Medan. "Di 2005 berjumpa dengan Ucok Munthe untuk belajar lebih banyak mengenal budaya hip hop dan mulai bereksplorasi," ceritanya tentang satu momen penting baginya. Secara musik, Jere sangat terpengaruh oleh hip hop '90-an dan masih mengandalkan scratch dalam lagu-lagunya. "Rapper yang paling memengaruhi adalah Public Enemy, Beastie Boys, Wu Tang Clan, Nas, KRS One, Company Flow, Arsonist, Busta Rhymes, dan banyak lagi lainnya," jelasnya.

Album Gorilla Spit yang akan segera dirilis diisi dengan kolaborasinya bersama DJ Rencong a.k.a Danger Dope, DJ Evil Cut (Eyefeelsix, Ex-Homicide), DJ Cza, DJ Voodoodoll, dan beberapa rapper maupun reggae DJ yang ikut mengisi di beberapa lagu.

Dia Bilang:

"Suka hip hop karena terdengar unik dan berbeda, juga secara delivery yang khas memuat banyak majas, penyampaian rima yang beragam dan sastra di dalamnya," katanya tentang kecintaan awalnya tentang aliran musik ini. "Perkembangan hip hop di Indonesia sudah menyeluruh namun kurang wadah dan juga acara reguler membuat jadi terkesan lebih individual, dalam art masih terlalu berbasis komunitas," ujarnya.

Coba Simak: "Gambling" membawa kultur hip hop pantai timur Amerika Serikat ke bagian paling utara Sumatera, membicarakan kerasnya kehidupan kota dan cara yang terpaksa diambil sehari-hari. (Ivan Makhsara)

Dua Petaka Membawa Bencana (D.P.M.B) (Yogyakarta)

Dua Petaka Membawa Bencana (D.P.M.B)

Terdengar Seperti: Teror beat old school diganyang break dan scratch yang terdengar sedemikian kriminal

Untuk Pendengar : Public Enemy, Wu Tang Clan

Mengapa Harus Dipantau:

D.P.M.B adalah unit pertama yang layak Anda dengar untuk membuktikan bahwa hip hop Yogyakarta tak melulu "Jogja Istimewa" atau adaptasi sastra Jawa dari rapper-rapper berbatik. Mengusung akronim Dua Petaka Membawa Bencana, D.P.M.B menyandingkan unsur lokalitas dengan huru-hara rap dan senyawa hip hop yang lebih autentik dari tanah asalnya. Simak album Re: Attitude (salah satu dari 20 Album Lokal Terbaik 2015 versi Rolling Stone Indonesia), beat-beat yang mengandalkan kreasi sampling dan break sebagai tiang pancangnya menjadi latar yang gagah untuk sepasang petaka berupa vokal Alex Donnero yang serak dan vokal Mamox yang sengak.

Nama D.P.M.B sudah mulai berkibar semenjak mereka menggubah sajak Goenawan Mohamad bertajuk "Gatholoco" untuk mengisi kompilasi Poetry Battle #2, serta kiprah single "Microphone Attack" yang menerjang tangga lagu hip hop nasional. Yang disebut terakhir adalah nomor sangar "yang sampai saat ini kami masih merinding ketika memutarnya, lagu ini juga menjadi titik awal kami memutuskan untuk lebih serius menggarap D.P.M.B," ungkap Alex Donnero. Keseriusan yang mengantarkan jagoan dari salah satu komunitas dan label musik urban paling beken di Kota Gudeg, Hellhouse Records, menjajah hiruk pikuk deretan panggung hip hop lokal.

Mereka Bilang:

Heri Wiyoso a.k.a M2MX sebelumnya sudah mencetak kiprah penting di kancah musik hip hop dengan dua grupnya, Jahanam serta JHF (Jogja Hip Hop Foundation). Lantas ia berburu apa lagi di D.P.M.B? "Karakter musik, cara menulis lagu, dan menentukan flow antara Jahanam dan D.P.M.B sangat berbeda. Bersama D.P.M.B saya menemukan energi yang benar-benar bisa mewakili karakter saya yang sesungguhnya sebagai pemusik. Mungkin karena saya juga suka mendengarkan lagu-lagu cadas seperti hardcore, metal, dan lain-lain," sahutnya.

Sementara itu Alex Donnero melihat ada kebutuhan bernostalgia dan energi baru pada ruang-ruang hip hop lokal, terutama terkait langkanya musisi lain yang berkarya di jalur hip hop oldskool. Era keemasan hip hop di dekade 1980-1990"an baginya mengandung spirit dan wacana tertentu yang perlu disulut kembali. Ia menukaskan,"Semangat golden era yang kami rindukan dan coba presentasikan adalah tentang kejujuran berkarya, berani bersuara, dan apa adanya. Karena semua hal itu kami rasakan mulai luntur termakan konsep lagu-lagu bling bling, party, duit, gadis seksi, dan omong kosong kekinian lainnya yang makin melupakan akar musik hip hop itu sendiri".

Coba Simak:

"Ndasmu!", salah satu amunisi paling berbahaya dari album Re:Attitude serupa jari tengah langsung di depan pelupuk mata. (Soni Triantoro)

Begundal Clan (Yogyakarta)

Begundal Clan

Terdengar Seperti: Komplotan menuju teler berebut mikrofon, ruang dansa, definisi persahabatan, air suci, dan perayaan old school funk yang sudah terlalu lama menyepi

Untuk Pendengar : Fu-Schnickens, House of Pain, Naughty By Nature

Mengapa Harus Dipantau:

Lahir dari studio hasil perombakan rumah kontrakan murah di bantaran sungai Kali Code, gerombolan ini tak segan membentuk unit hip hop dengan jumlah personel ekstra di 2010. Dari selusin menyusut hingga delapan orang, Begundal Clan seharusnya masih cukup riskan untuk bertahan dari tantangan menyatukan visi bermusik banyak kepala. Namun keutuhan dan komitmen yang terjaga melanggengkan mereka menelurkan rentetan single seperti "Perang Dingin", "Bloong", "Berbahaya" hingga akhirnya merilis album pada Agustus 2014—tertunda hampir setahun gara-gara menanti seorang personel keluar dari jeruji besi.

"Semua punya referensi masing-masing. Namun pada dasarnya anak-anak memang cocoknya dengan musik old school dan funk," tukas Rio Priambodo a.k.a Destroyer01. Selain penataan verse yang lebih apik, album Dirty As Begundal ditunjang sebagian materi yang diasah oleh tiga produser hip hop paling jempolan di Yogyakarta: NgilazBeat (Balance – Jogja Hip Hop Foundation/Jahanam), Lacos, dan Alex Donnero (D.P.M.B). Pesta peluncuran albumnya diramaikan oleh barisan dedengkot hip hop Yogya seperti Rotra, Jahanam, NOK 37, hingga Mlethodman. Semenjaknya, mulai bermunculan unit hip hop Yogya dengan jumlah personel di atas rata-rata.

Mereka Bilang:

"Kami tidak bisa memproses penggarapan langsung menjadi sebuah lagu dalam waktu sehari. Tiap personel punya mood sendiri, dan kami harus menunggu semuanya mendapatkan mood-nya," ungkap Indrayana a.k.a Secknoristo yang paham betul beratnya menjalankan kelompok musik dengan banyak awak. Namun setidaknya kepekaan pembuatan lirik disatukan oleh ketertarikan pada topik. "Pertemanan masih menjadi pilihan tema yang kuat. Proses kami melewati fase-fase berantem satu sama lain hingga menjadi seperti ini adalah cerita yang banyak kami bangun di lirik. Termasuk seperti lagu "Imaji Hari Ini" yang kami ciptakan dari apa yang kami rasakan pada hari itu dan ke depannya."

Jika gangsta rap muncul dari kerasnya lingkungan urban kancah pesisir barat Amerika Serikat bertopang gang-gang sempit beraroma kemelaratan, Begundal Clan tumbuh dengan lingkungan pinggiran sungai yang juga memendam problema wilayah sosial termarginalisasi. "Enaknya, kami menghubungkannya dengan sesuatu yang riil. Karena mau tidak mau kami harus masuk dan mengakrabkan diri di lingkungan mereka. Termasuk ada banyak gali (anak liar) yang tinggal di situ. Dari sana, kami membuat lirik dari apa yang kami lihat saja," tukas Ari.

Coba Simak:

Dari polesan tangan Alex Donerro, "Bedebah" menjamah elemen bass funky yang membuat pendengar hip hop terpaksa mengoleng-olengkan kaki sama sibuknya dengan merayakan anggukan kepala dan tangan di udara. (Soni Triantoro)

A. Nayaka (Jakarta)

A. Nayaka

Terdengar Seperti: Pengantar kegelisahan bagi pecinta di era Snapchat

Untuk Pendengar: Drake, Frank Ocean, J Cole

Mengapa Harus Dipantau:

A. Nayaka atau bernama lengkap Ariel Nayaka sudah mengeluarkan dua mixtape yang menarik. Di mixtape terbarunya, Curriculum Vitae, ia bukan hanya menunjukkan kualitas berbahasa Inggris di atas rata-rata tapi menerjemahkan kemampuannya untuk membuat lagu hip hop dengan berbagai jangkauan gaya.

Bukan hanya berhenti dengan karier solo, ia menambah kaya pengalaman dengan berduet bersama Emir Hermono, produser hip hop berdarah Indonesia yang sedang tinggal di Malaysia. Di lagu "3 AM In Jakarta", keduanya berpadu menciptakan lagu sendu yang elegan. Lagu ini mendapat sambutan di Malaysia dan membuat Ariel diundang ke sebuah festival musik di sana.

Dia Bilang:

Ariel menganggap mixtape keduanya sebagai curriculum vitae ke industri, "Gue mulai bikin konsep album, ada lagu yang pelan, old school hip hop, trap zaman sekarang. Gue ingin menunjukkan kemampuan gue sebagai rapper."

"Scene hip hop Jakarta tumbuh cepat, karena hip hop global juga sedang kencang. Bagus karena bisa memengaruhi banyak orang yang sebelumnya nggak tertarik pada hip hop," ujarnya optimistis.

Coba Simak:

Lagu paling fantastis di mixtape kedua A. Nayaka, "Chapters", dikerjakan seorang produser Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, Greybox. Produksi sound-nya melampaui banyak karya hip hop di Indonesia, dan flow Ariel makin menguatkan lagu ini. (Ivan Makhsara)



Related

Most Viewed

  1. Program RadioShow Kembali Hadir di Layar Kaca
  2. Mayhem, Perjalanan Panjang dan Gelap Membangkitkan Black Metal Klasik
  3. Debut Penyutradaraan Pidi Baiq, ‘Baracas’, Tayang Mulai 23 Maret
  4. Kisruh Delegasi Musik Indonesia ke SXSW 2017, The Trees and The Wild dan KimoKal Batal Berangkat
  5. Lima Dewa Gitar Dunia Konser di Jakarta April Mendatang

Editor's Pick

Add a Comment