Isyana Sarasvati: The Phenomenal

Sang pendatang baru penuh bakat dan pencapaian fenomenalnya

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 133 Mei 2016.

Isyana Sarasvati masih seperti yang saya temui sekitar delapan bulan sebelumnya. Ada aura bintang yang keluar dari tubuhnya, tapi tidak sampai membuat orang lain merasa segan. Yang berbeda ialah ada garis lelah di wajahnya, tapi kemudian kalah oleh senyum dan sapanya kepada setiap orang di ruangan pemotretan waktu itu. Kelakar masih gampang keluar dari bibirnya, lebih sering karena mengolok-olok diri sendiri atau tertawa geli. Seperti saat saya nyatakan pada Isyana bahwa dalam beberapa bulan terakhir semakin sah rasanya kalau ia adalah media darling baru di Indonesia. Reaksinya lebih menyerupai ia menganggap saya bercanda. Satu kali ia jatuh saat beraksi di konser ulang tahun Kahitna pada Februari lalu. Dengan cepat setelahnya ia ikut tertawa bersama penonton, menggunakan dirinya sendiri sebagai bahan berkelakar. Atau bagaimana ia menjalani diet bertahun-tahun karena takut menjadi gemuk. "Saya suka makan. Kalau merasa gendut jadi nggak nyaman, mau manggung jadi malas," katanya. Berarti apa sekarang membatasi makan, saya tanya. "Nggak juga, ha-ha-ha," jawabnya .

Selain sikapnya yang supel, yang juga tertangkap begitu meluangkan waktu bersama Isyana adalah ketegasan dan kekerasan hatinya. Penyanyi berusia 23 tahun ini mencontohkan beberapa kali harus mengoreksi cara orang melafalkan nama belakangnya. "Bukan "Saraswati", tapi "Sarasvati"," katanya sambil memberi penekanan pada huruf "v". "Pernah ada pembawa acara yang terus salah mengucapkan itu, dan setiap kali saya ralat. "Sarasvati", "Sarasvati"."

Dari tahun lalu sampai hari ini semakin banyak orang yang mengucapkan namanya, mungkin dengan keliru mungkin benar. Dua single yang dilepas pada Desember 2014 ("Keep Being You") dan Maret 2015 ("Tetap Dalam Jiwa") membawanya kepada ketenaran di negeri ini. Pemutaran tingkat tinggi di radio bersamaan dengan semakin "jadi"-nya nama Isyana lewat "Tetap Dalam Jiwa", yang hingga kini sudah ditonton lebih dari 41 juta kali di YouTube.

Bersamaan dengan album perdana yang akhirnya dirilis, Explore!, single "Kau Adalah" juga keluar pada November lalu. Kala itu tampak Isyana sudah menjadi salah satu penyanyi paling tersohor sekaligus disayangi di Indonesia. Musik pop (dengan pengaruh R&B) yang ramah diterima kuping membuat banyak orang gemar pada Isyana. Vokalnya yang bulat dan bening hasil dari cetakan sekolah musik, yang dijalaninya di Singapura dan London berbekal beasiswa. Di atas panggung, sangat mungkin kita melihat Isyana tak hanya menyanyi dan memainkan keyboard. Ia kerap tiba-tiba pindah ke belakang drum set lalu menggebuknya dengan ahli. Cara ia menyanyi pun asyik disimak: mimiknya menggambarkan jiwa lagunya dan dengan ahli ia memanfaatkan segala ruang di panggung.

Ini berbuntut dengan jadwal manggung sekaligus promosi Isyana yang sangat padat, bahkan sejak satu tahun sebelum albumnya dirilis. Saat Rolling Stone Indonesia mewawancarai Isyana pada pertengahan Februari lalu, dalam satu hari itu ia menjalani tiga pemotretan dan malamnya diisi dengan gladi resik konser Kahitna. Dalam jumpa pers saat peluncuran Explore!, Isyana dan tim Sony Music Entertainment Indonesia bersaksi bahwa pada saat itu (November 2015) jadwalnya bahkan sudah penuh sampai pertengahan tahun ini. Pada Maret lalu ia menjalani tur di Kalimantan, disambung dengan acara promosi bersama beberapa merek. Mungkin Isyana adalah satu-satunya penyanyi yang dengan dua single saja sudah tampil di berbagai festival serta mendapatkan endorsement dari berbagai merek, dari toko daring, gawai, sampai pelembap tubuh.

Dengan kegiatan harian seperti itu, di awal-awal Isyana merasakan kondisi kesehatannya terpengaruh. Yang tadinya jarang sakit kemudian "merasakan yang namanya sakit itu bagaimana". Ini kemudian diakalinya dengan rutin berolahraga. Mengaku badannya kaku dan karenanya menjauhi yoga serta pilates, "Aku mau yang jeder-jeder saja", katanya. Pilihannya jatuh pada muay thai. "Di hari pertama aku sampai berkunang-kunang, dan diberi air kelapa," kenang Isyana.

Isyana adalah pemusik, penyanyi, dan pencipta lagu yang menantang untuk terus diikuti. Pendidikan dalam menyanyi opera dan komposisi membuatnya menjadi insan musik yang istimewa. Musik di dalam dirinya bersarang sejak ia belum lima tahun. "Di usia tiga tahun Isyan bahkan bisa menyukai dan hafal lagu-lagu tahun "40-an yang dinyanyikan oleh The Four Freshmen, lalu The Three Tenors, The Beatles, Queen, Simon & Garfunkel, dan The Manhattan Transfer," kata Luana Marpanda, ibu Isyana yang memiliki pengalaman puluhan tahun sebagai guru musik. Menurutnya, bakat Isyana yang berasal dari orang tua atau leluhurnya ditambah dengan lingkungan. Tambahnya lagi, ia sebagai guru musik juga menjadi salah satu faktor pembentuk yang signifikan. "Di samping itu memang kami sekeluarga sangat senang mengapresiasi dan bermain musik dari semua aliran," tambahnya.

Isyana sendiri masih mengingat waktu kecil ia lebih senang berlatih piano dibanding menonton televisi. Baginya, menonton cukup 10 menit sementara lima puluh menit lainnya diisi dengan latihan. Setiap hari dalam hidup Isyana kecil berarti latihan piano selama tujuh sampai delapan jam. Ini berlanjut dengan kebisaan membuat komposisi pada usia tujuh tahun, dan mempelajari berbagai instrumen selain piano seperti electone, saksofon, flute serta menyanyi. Di usia remaja ia mengambil keputusan penting untuk meninggalkan bangku SMA demi menempuh kuliah musik dengan beasiswa.

Masa kecil Isyana dihabiskan di Eropa, mengikuti ayahnya (Sapta Dwikardana, dosen Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan sekaligus ahli grafologi) yang saat itu sedang menjalani pendidikan S3. Kembali ke Indonesia saat berusia tujuh tahun, Isyana sempat bingung soal bahasa karena selama ini ia berbahasa Belanda. Saat itu ia pindah ke Bandung, dan secara sekaligus ia belajar berbahasa Indonesia dengan bumbu bahasa Sunda. "Saya jadi mengerti bahasa slang Sunda, padahal bukan orang Sunda," katanya. Masalah bahasa ini kata Isyana kadang masih mengikutinya kalau ia berbicara dalam bahasa Indonesia. Beberapa istilah sempat tertukar saat Rolling Stone Indonesia pertama kali bertemu dengannya pada Juni tahun lalu, misalnya "kesepian" saat ia bermaksud mengutarakan "hening". Namun tampaknya pertemuan dengan media massa dan macam-macam pihak dalam dosis tinggi setelahnya membuat Isyana semakin lancar bercakap.

Luana ingat ia melihat bakat Isyana sejak usia tiga tahun. Dalam kata-katanya, "Isyana belajar musik dengan easy, enjoy, dan excellent." Sebagai guru ia tahu bahwa tak cuma bakat yang bisa menentukan perjalanan seseorang. Baginya, meski seseorang sangat berbakat namun ia juga mempercayai hukum sepuluh ribu jam. Sukses baru datang setelah kerja keras dilibatkan, dan bagi Luana minimal sepuluh ribu jam harus dicurahkan untuk itu. "Isyana sudah memulai jam pertamanya pada usia tiga tahun, jadi saat ini dia sudah melampaui sepuluh ribu, bahkan mungkin dua puluh ribu. Maka apa yang dicapai saat ini adalah hasil dari perjalanan panjang itu," katanya.

Begitu Isyana menginjak usia 10 tahun, Luana melihat bahwa bakat anak keduanya sudah bisa menghasilkan. "Ia menyerap lebih cepat dan lebih kreatif, dalam arti begitu mudah membuat lagu serta membuat aransemen lagu menjadi berbeda," katanya. Ia menyaksikan bagaimana bagi Isyana seperti tak ada kata berhenti untuk bermusik. "Kalau pun tangannya berhenti, mulutnya terus bernyanyi."

Bagi Isyana, ibunya menjadi panutannya, yang disebutnya sebagai tiger mom. "Dia yang pertama mengajari aku musik, mendampingi aku dari kecil, mendampingi ups and downs," katanya. Ia pernah ikut dalam kompetisi yang membutuhkan satu tahun latihan. Ia ingat merasa sangat tertekan, tapi ia juga ingat bagaimana ibu terus menemaninya berlatih. Kebiasaan ini terjaga sampai sekarang, ke mana pun Isyana pergi ia akan ditemani ibunya sejauh ia bisa.

Luana berkata ia memiliki beberapa peran di dalam hidup Isyana. "Di dalam keluarga saya menggunakan topi sebagai ibu yang senantiasa bisa menjadi figur, panutan, sekaligus teman. Karena dia cukup tertutup, maka pendekatan dan perhatiannya harus lebih khusus," jelasnya. "Pada saat yang bersamaan saya menggunakan topi sebagai music instructor untuk Isyana. Belasan tahun sebelum Isyana lahir saya sudah memiliki ratusan murid di sebuah sekolah musik di Bandung. Ketika Isyana begitu cepat menunjukkan minat pada instrumen musik, saya curahkan seluruh kemampuan pengajaran saya termasuk membawa dia ke guru-guru terbaik di Indonesia, seperti Iswargia Soedarno (piano), Avip Priatna (vokal), Stephen Tamadji (komposisi), Pramudya Hindrawan (electone), untuk menjadikan Isyana musisi yang paripurna.

"Saya mengambil kesabaran dari ibu," kata Isyana. Ia pernah mengambil jalan yang sama seperti ibunya, yaitu menjadi guru musik saat kuliah di Singapura. Selama dua tahun menjadi guru, akhirnya ia merasa itu bukan jalannya. "Ada-ada saja kejadiannya. Dari anak kecil yang maunya ngumpet di kolong, anak kecil yang ingusnya turun terus, sampai ibu-ibu yang setiap datang pasti sambil menangis. Ternyata ia les untuk mencurahkan kesedihannya," kenangnya.

Pada umur 13 tahun Isyana pernah menjadi juara sebuah kontes model. "Padahal saya bulat sendiri dibanding model-model lain yang cantik," katanya tertawa. Ia bilang kemungkinan predikatnya saat itu sebagai Ketua OSIS membuat ia terlihat kredibel. Hadiah motor dan uang tunai sebagai juara ia gunakan untuk membeli saksofon. Di antara itu ia menyabet berbagai penghargaan, seperti tiga kali menjadi finalis kompetisi piano nasional Yamaha serta juara Grand Prix Asia Pacific Electone Festival.

Dalam usia 16 ia mendapat beasiswa dari Nanyang Academy of Fine Arts Singapura yang menghasilkan Diploma in Music Performance dan melanjutkan ke Royal College of Music di London untuk gelar Bachelor of Music. Persinggungannya dengan musik populer yang ditampilkan lewat YouTube sejak 2010 membuatnya cukup dikenal di Indonesia. Ia mengaku "dipaksa" oleh Rara Sekar, kakaknya yang anggota kelompok musik folk Banda Neira, untuk mengiringinya bernyanyi. Beberapa video kemudian memperlihatkan ia membawakan ulang lagu-lagu pop seperti "I Will Fly" (Ten 2 Five) atau "Boyfriend" (Justin Bieber). Selain sumbangan musik "wajib" seperti The Beatles dari orang tua, Isyana pernah berkata bahwa pengetahuan musik populernya datang dari Rara. Spice Girls, India Arie, Mary J. Blige, Jamie Cullum, sampai Backstreet Boys menjadi nama-nama di luar Tchaikovsky atau Olivier Messiaen, komposer kelahiran Prancis favoritnya.

Di masa awal kuliah, Isyana sebenarnya sudah diperhatikan oleh Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI). Mahavira Wisnu Wardhana (Inu) dari SMEI berkata bahwa mereka melihat Isyana pertama kali di YouTube dan Soundcloud. "Yang menarik adalah karena dia pandai menggubah ulang lagu yang sudah ada menjadi warnanya sendiri," kata Inu yang menjabat sebagai Artist & Repertoire Manager ini. "Vokalnya yang bernuansa opera menjadi tantangan bagi Sony Music untuk membuatkan album."

Yang Isyana ingat dari saat itu adalah ia "dikejar" lewat Twitter, dengan adanya berkali-kali mention dan direct message namun bukan dari akun resmi SMEI. Takut palsu dan melihat jumlah follower yang sedikit, Isyana tak menggubrisnya.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 133 Mei 2016.

Editor's Pick

Add a Comment