Blog Sakrielegious: Benny Soebardja, Kukuh Nan Teguh

Benny Soebardja adalah pemusik rock era 70an asal Bandung yang disegani. Lelaki kelahiran Tasikmalaya ini juga memiliki pendirian yang keras.

Oleh
Benny Soebardja adalah pemusik rock era 70an asal Bandung yang disegani. Lelaki kelahiran Tasikmalaya ini juga memiliki pendirian yang keras. Di saat band-band rock era 70an lebih bangga menjadi impersonator band-band rock mancanegara, Benny Soebardja bersama Giant Step, band yang dibentuknya pada 1973 tetap gigih dan keukeuh untuk membawakan karya-karya orisinal mereka diatas panggung.

Benny ngotot pasang harga mati untuk tetap mengusung karya cipta sendiri. Bahkan yang paling edan di saat Giant Step diminta tampil membawakan lagu-lagu The Beatles dalam sebuah konser mengenang The Beatles di Bandung pada 1976, Giant Step tetap tak bergeming. Mereka tak menghiraukan persyaratan yang diajukan panitia untuk membawakan lagu-lagu The Beatles melainkan membawakan karya karya mereka sendiri.

Dipertengahan era 70an Benny Soebardja yang sarjana pertanian ini kembali jadi sorotan publik saat mencerca musik Dangdut sebagai musik maaf…tai anjing. Komentar panas Benny Soebardja ini ditanggapi frontal oleh Oma Irama dari kubu dangdut. Polemik yang kian memanas ini seperti diberi tempat oleh majalah pop Aktuil yang terbit di Bandung.

Untungnya polemik yang meruncing tajam ini berakhir dengan perdamaian antara kedua kubu musik, baik rock maupun dangdut. Apalagi muncul fakta baru, ternyata baik Benny Soebardja maupun Oma Irma sama-sama berasal dari Tasikmalaya. Perseteruan lintas musik ini berakhir dengan happy ending.

Benny Soebardja ingin bersepanggung dengan Soneta Group tapi batal, dan akhirnya Giant Step sepanggung dengan penyanyi dangdut wanita Lies Saodah. Dalam solo album Benny Soebardja yang didukung band Lizzard, Benny Soebardja memasukkan unsur tabla, instrumen tabuh India yang menjadi inspirasi musik dangdut.

Oma Irama mulai mengadopsi sound gitar rock dalam tata musik dangdut Soneta Group. Banyak yang menilai Oma Irama mulai menyusupkan anasir music rock dalam musik dangdut yang mereka mainkan. Pengaruh style gitar ala Ritchie Blackmore, gitaris Deep Purple menyeruak disana-sini dalam gugus musik Oma Irama dan Soneta Group.

Pada 1975 band rock Surabaya AKA malah merilis album Pop Melayu dan di 1979 Achmad Albar, vokalis God Bless merilis album dangdut Zakia. Idealisme Benny Soebardja dalam bermusik memang tak diragukan. Musik adalah panggilan jiwa yang selalu meronta-ronta dalam diri Benny Soebardja.

"Saya selalu dan tetap ingin bermain musik, di rekaman maupun di panggung," ujar Benny suatu ketika.

Keinginannya untuk tetap eksis bermusik itu saya rasakan sangat jelas. Saya ingat ketika pada 1996 Benny Soebardja datang menemui saya dan mengeluarkan seluruh uneg-unegnya: "Saya ingin rekaman lagi!"

Saya terperangah. Saya kaget, karena ternyata Benny Soebardja betul-betul serius untuk kembali tampil di industri musik Indonesia. Jelas saya bingung, akan kemana saya mengarahkan keinginan Benny Soebardja untuk berkutat dalam dunia rekaman mengingat sosoknya telah cukup lama menghilang. Belum lagi situasi kekinian musik Indonesia pasti tidak menerima lagi kehadiran pemusik masa lalu.

Saya akui, situasi musik Indonesia sangat tidak fair, terutama karena para praktisi industri musik hanya mau berkonsentrasi terhadap pemusik-pemusik belia saja. Namun saya tetap memberikan rekomendasi kepada Benny Soebardja ke label mana harus dia temui.

Saya ingin agar Benny Soebardja pada akhirnya bisa memahami kondisi industri musik di negeri ini seperti apa. Yang saya ingat, Benny Soebardja menemui sebuah label rekaman yang saya rekomendasikan. Dan seperti yang sudah saya duga, label tersebut mengatakan belum dapat bekerjasama dengannya untuk saat ini.

Tapi Benny Soebardja pantang mundur, dia tetap bersemangat ingin kembali bermusik seperti dulu di era 70an. Di saat riuh rendah penonton mengelu-elukannya di panggung-panggung rock atau di saat majalah Aktuil memajang wajahnya sebagai sampul depan majalah.

Selain meminta bantuan saya serta rekan saya, Denny MR, Benny Soebardja ingin tampil di panggung beserta bandnya Giant Step. Sayangnya personel Giant Step susah untuk disatukan kembali. Triawan Munaf misalnya, sibuk dengan perusahaan periklanannya. Tapi Benny Soebardja tetap ingin bermain musik rock di panggung.

1997, saat saya masih bekerja di radio classic rock M97FM, saya mengajak Benny Soebardja tampil secara solo bersama beberapa pemusik rock era 70an di News Café, Kuningan. Saat itu saya melihat Benny masih memiliki semangat dan kemampuan musik yang memadai di atas panggung pertunjukan.

Dengan didukung drummer Jelly Tobing yang pernah masuk ke dalam formasi Giant Step (1983-1985) serta beberapa pemusik muda, Benny Soebardja sempat pula tampil di Classic Rock Stage, sebuah cafe yang khusus memainkan band-band classic rock dibilangan Blok M sekitar akhir era 90an.

Kegigihan Benny Soebardja ini membuat saya teringat dengan salah satu judul album Giant Step yang dirilis sekitar 1977, Kukuh Nan Teguh. Benny Soebardja tak diragukan lagi adalah sosok yang kukuh dan berpendirian teguh.

2006, Benny Soebardja kembali menelepon saya. Saat itu Benny ingin merilis ulang album Gedhe Chokra's dari Shark Move, band yang dibentuk Benny pada 1971 bersama Bagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo dan Soman Loebis. Kemudian saya memperkenalkan Benny dengan David Tarigan yang saat itu adalah A&R Aksara Record.

Atas bantuan David Tarigan akhirnya Benny melakukan remastering album Ghede Chokra's (Shark Move) di Studio Pendulum. Hasil remastering inilah yang kemudian ditawarkan Benny Soebardja ke Shadoks Record, sebuah label kecil di Jerman yang sebelumnya telah merilis reissue album Ariesta Birawa dan Guruh Gipsy secara internasional.

Album Gedhe Chokra"s dirilis Shadoks Record pada 23 Oktober 2007. Diluar dugaan ternyata album Sharkmove yang dirilis pertama kali pada 1973 itu mendapat resensi yang bagus di mata internasional.

Benny Soebardja kemudian dihubungi oleh Egon Alapatt dari label Now Again Records yang ingin membuat kompilasi band-band rock/psychedelic Indonesia pada era 70an. Egon tertarik untuk memasukkan lagu "Evil War" dari Sharkmove dalam kompilasi yang kemudian diberi judul Those Shocking Shacking Days yang diambil dari judul lagu milik kelompok Ivo"s Group.

Egon bahkan meminta bantuan Benny Soebardja menghubungi para pemusik Indonesia seperti Koes Plus, Panbers, The Brims, Ivo"s Group, Black Brothers dan banyak lagi yang lagu-lagunya dimasukkan ke dalam kompilasi yang dirilis pada 8 Februari 2011 tersebut. Album kompilasi ini juga didukung oleh Jason Connoy, pemilik label Strawberry Rain asal Kanada.

Jason Connoy ternyata juga tertarik dengan karya Benny Soebardja bersama Shark Move hingga akhirnya Connoy menawarkan Benny Soebardja untuk merilis ulang karya-karya solo Benny Soebardja berdasarkan album-album solo miliknya pada era 70an seperti My Life (1975), Give Me Piece of A Gut Rock (1977) dan Night Train (1978) dalam format CD dan piringan hitam yang kesemuanya terjual habis. Jika Anda menelusuri internet maka akan terlihat begitu banyak resensi yang memuji karya Benny Soebardja tersebut.

Walaupun telah sukses sebagai pengusaha, ternyata Benny Soebardja tetap memiliki passion yang luar biasa terhadap ingar-bingar musik rock. Setelah sukses berkolaborasi dengan The S.I.G.I.T dalam konser lintas genre lintas generasi DjakSphere 2012 pada 20 November lalu, kini Benny Soebardja akan melakukan reuni bersama Giant Step dengan mengajak personel dari era 1973 hingga 1985 yaitu, Triawan Munaf (vokal, keyboards), Erwin Badudu (keyboards), Jelly Tobing (drums), Deddy Dorres (gitar/keyboards), Adhi Sibolangit (bass) dan Donny Suhendra yang menggantikan gitaris Albert Warnerin yang batal ikut karena kesehatan yang tak memungkinkan.

Tak hanya sekadar reuni Giant Step saja, tapi Benny Soebardja juga berhasil membujuk rekan-rekan rockernya di era 70an untuk turun gunung kembali menyajikan musik rock di panggung pertunjukan. Acara yang bernama Rock Actual 70 ini rencananya akan menampilkan 5 band rock papan atas era 70an yaitu God Bless, Rollies, SAS, Superkid dan Giant Step pada 3 Mei 2013 pukul 20:00 WIB di Sting Ray, Crowne Plaza, Jalan Gatot Subroto 3, Jakarta.

Benny Soebardja akhirnya sudah bisa tersenyum melihat semangat dan kegigihannya berbuah nyata.

"Musiklah yang kembali menautkan dan menyatukan kami," ungkap Benny Soebardja.

Saya lalu teringat penggalan lirik lagu Giant Step yang dirilis pada 1985 bertajuk "Reuni":

Oh disini berkumpul lagi kita kembali
Dan masih nyata, masa lalu penuh suka dan duka
Gelak tawa gembira menghias suasana membuka lembaran cerita lama
Hari ini terlukis tingkah laku dahulu
Seakan-akan tiada pernah berlalu
Terasa hangat diri detik-detik ini
Mungkin tak akan pernah terulang lagi
Reuni wajah wajah berseri ceria
Reuni saat saat penuh nostalgia.



Editor's Pick

Add a Comment